- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Postingan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Seni Kuda Lumping Mutiyara Surya Putra > Tentang Kuda Lumping Tarian Kuda Lumping ini menggunakan kuda yang terbuat dari bambu atau bahan lainnya yang di anyam dan dipotong menyerupai bentuk kuda, dengan dihiasi rambut tiruan dari tali plastik atau sejenisnya yang di gelung atau di kepang. Anyaman kuda ini dihias dengan cat dan kain beraneka warna. Tarian kuda lumping biasanya hanya menampilkan adegan prajurit berkuda, akan tetapi beberapa penampilan kuda lumping juga menyuguhkan atraksi kesurupan, kekebalan, dan kekuatan magis, seperti atraksi memakan beling dan kekebalan tubuh terhadap deraan pecut. Jaran Kepang merupakan bagian dari pagelaran tari Reog. Meskipun tarian ini berasal dari Jawa, Indonesia, tarian ini juga diwariskan oleh kaum Jawa yang menetap di Sumatra Utara[4][5] dan di beberapa daerah di luar Indonesia seperti di Malaysia, Suriname, Hong Kong, Jepang , Singapura , Inggris , dan Amerika. Kuda lumping adalah seni tari yang dimainkan dengan properti berupa kuda tiruan, yang terbuat dari anyaman bambu atau bahan lainnya dengan dihiasi rambut tiruan dari tali plastik atau sejenisnya yang di gelung atau di kepang, sehingga pada masyarakat jawa sering disebut sebagai jaran kepang. Tidak satupun catatan sejarah mampu menjelaskan asal mula tarian ini, hanya riwayat verbal yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. baca lengkapnya disini ya >https://id.wikipedia.org/wiki/Kuda_lumping
Seni Kuda Lumping Mutiyara Surya Putra > Tentang Kuda Lumping Tarian Kuda Lumping ini menggunakan kuda yang terbuat dari bambu atau bahan lainnya yang di anyam dan dipotong menyerupai bentuk kuda, dengan dihiasi rambut tiruan dari tali plastik atau sejenisnya yang di gelung atau di kepang. Anyaman kuda ini dihias dengan cat dan kain beraneka warna. Tarian kuda lumping biasanya hanya menampilkan adegan prajurit berkuda, akan tetapi beberapa penampilan kuda lumping juga menyuguhkan atraksi kesurupan, kekebalan, dan kekuatan magis, seperti atraksi memakan beling dan kekebalan tubuh terhadap deraan pecut. Jaran Kepang merupakan bagian dari pagelaran tari Reog. Meskipun tarian ini berasal dari Jawa, Indonesia, tarian ini juga diwariskan oleh kaum Jawa yang menetap di Sumatra Utara[4][5] dan di beberapa daerah di luar Indonesia seperti di Malaysia, Suriname, Hong Kong, Jepang , Singapura , Inggris , dan Amerika. Kuda lumping adalah seni tari yang dimainkan dengan properti berupa kuda tiruan, yang terbuat dari anyaman bambu atau bahan lainnya dengan dihiasi rambut tiruan dari tali plastik atau sejenisnya yang di gelung atau di kepang, sehingga pada masyarakat jawa sering disebut sebagai jaran kepang. Tidak satupun catatan sejarah mampu menjelaskan asal mula tarian ini, hanya riwayat verbal yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. baca lengkapnya disini ya >https://id.wikipedia.org/wiki/Kuda_lumping
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Bajidoran atau Bajidor merupakan sebutan untuk penonton yang ikut menari dalam pertunjukan Kliningan Bajidoran. Awal mula kemunculan istilah ini tidak dapat dipastikan, sebelumnya penonton aktif yang menari di arena Tayub atau Ketuk Tilu disebut pamogoran. Menurut Deseng (Buky, 2008) bajidor adalah kependekan dari Banjet, tanji, dan bodor (lawakan). Banjet dan tanji adalah kesenian rakyat yang berkembang di kawasan pantai utara Jawa Barat. Dalam disertasi Buky Wibawa Karya Guna dijelaskan bahwa asal usul kesenian bajidoran khususnya di Subang, berawal dari kesenian kliningan. Kliningan atau kiliningan adalah nama sebuah instrumen dalam karawitan Sunda, bentuknya seperti saron panjang yang dimainkan dengan dua tangan dan biasanya dipadu dengan instrumen lainnya, seperti kacapi indung, dan kacapi panerus, kendang, rebab, dan goong, mengiringi lagu dengan suasana yang tenang dan lembut. Instrumen yang semula disebut kliningan itu sendiri kini digantikan dengan gambang. Pada perkembangannya, instrumen kliningan menghilang dan berubah menjadi genre musik gamelan dengan tetap menggunakan nama kliningan yang mengiringi sinden. Di Subang, khususnya daerah Pagaden, kliningan mengalami pembauran dengan kesenian rakyat yang telah ada sebelumnya, seperti Dombret, Banjet, Ketuk Tilu, Tayub, Doger, dan Gembyung. Hasilnya, kliningan yang biasanya menyajikan lagu-lagu yang berkesan tenang dan lembut memiliki tampilan baru dengan lagu-lagu berirama cepat dan cenderung memenuhi permintaan lagu dari penonton, bahkan akhirnya para penonton yang mengendalikan pertunjukan, termasuk meminta mengiringi mereka untuk menari dan memberi uang saweran. bersumber >https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditwdb/bajidoran/
Bajidoran atau Bajidor merupakan sebutan untuk penonton yang ikut menari dalam pertunjukan Kliningan Bajidoran. Awal mula kemunculan istilah ini tidak dapat dipastikan, sebelumnya penonton aktif yang menari di arena Tayub atau Ketuk Tilu disebut pamogoran. Menurut Deseng (Buky, 2008) bajidor adalah kependekan dari Banjet, tanji, dan bodor (lawakan). Banjet dan tanji adalah kesenian rakyat yang berkembang di kawasan pantai utara Jawa Barat. Dalam disertasi Buky Wibawa Karya Guna dijelaskan bahwa asal usul kesenian bajidoran khususnya di Subang, berawal dari kesenian kliningan. Kliningan atau kiliningan adalah nama sebuah instrumen dalam karawitan Sunda, bentuknya seperti saron panjang yang dimainkan dengan dua tangan dan biasanya dipadu dengan instrumen lainnya, seperti kacapi indung, dan kacapi panerus, kendang, rebab, dan goong, mengiringi lagu dengan suasana yang tenang dan lembut. Instrumen yang semula disebut kliningan itu sendiri kini digantikan dengan gambang. Pada perkembangannya, instrumen kliningan menghilang dan berubah menjadi genre musik gamelan dengan tetap menggunakan nama kliningan yang mengiringi sinden. Di Subang, khususnya daerah Pagaden, kliningan mengalami pembauran dengan kesenian rakyat yang telah ada sebelumnya, seperti Dombret, Banjet, Ketuk Tilu, Tayub, Doger, dan Gembyung. Hasilnya, kliningan yang biasanya menyajikan lagu-lagu yang berkesan tenang dan lembut memiliki tampilan baru dengan lagu-lagu berirama cepat dan cenderung memenuhi permintaan lagu dari penonton, bahkan akhirnya para penonton yang mengendalikan pertunjukan, termasuk meminta mengiringi mereka untuk menari dan memberi uang saweran. bersumber >https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditwdb/bajidoran/
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya